Rabu, 11 September 2019


HUTAN
(Harapan masa depan tanpa kepastian)

Apa yang terlintas dipikiran kita ketika mendengar kata Hutan?
Apakah ratusan ribu kilometer hamparan hutan di nusantara?
Apakah kekayaan alam yang dihasilkan oleh hutan Indonesia?
Apakah bentangan hutan yang di nobatkan sebagai paru-paru dunia?
Atau apakah ancaman hutan yang akan dijadikan tempat Ibu Kota Negara, serta ancaman semakin sedikitnya hutan akibat perluasan lahan sawit dan sebagainya oleh perusahaan?
Itu yang menjadi soal kita hari-hari ini.
Forum-forum diskusi dunia akhir-akhir ini selalu menyuguhi persoalan tentang humanity, human right, forest dan environment. Forum-forum seperti ini melibatkan berbagai kalangan, antara lain intellectual, aktivis, pakar, mahasiswa, LSM, dll. Tidak bisa dipungkiri bahwa persoalan di atas memang menjadi topik hangat yang dapat kita katakan ‘urgent’ untuk diperbincangkan guna untuk mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.
Indonesia yang disebut sebagai ‘paru-paru dunia’ karena menyimpan hamparan hutan asri menjadi  sorotan masyarakat internasional. Terutama pada saat terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan di pulau Sumatera dan Kalimantan pada tahun 2015 yang lalu sehingga menyebabkan kabut asap yang tidak hanya berdampak pada masyarakat Indonesia saja, namun juga Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Berbagai macam penyakit muncul akibat itu terutama penyakt Inpeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), yang tidak hanya berdampak pada orang dewasa melainkan juga pada anak-anak dan balita. Tidak hanya itu, diberbagai Bandar udara terjadi pembatalan penerbangan yang di akibatkan jarak pandang tertutup asap tebal. Akibat tragedy tersebut Indonesia mendapat kecaman luar biasa dari dunia internasional.

Dalam hal lain, pembebasan hutan untuk membuka lahan sawit yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ataupun masyarakat pribadi juga menjadi persoalan yang tidakkalah penting. Mengingat Indonesia merupakan salah satu penyuply terbesar minyak sawit dunia. Menurut riset yang dilakukan oleh team  Ekspedisi Indonesia Biru, saat ini ada 11 juta hektar lahan kelepa sawit yang tersebar di seluruh Indonesia. Minyak sawit adalah salah satu minyak yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di dunia. Minyak yang murah, mudah diproduksi dan sangat stabil ini digunakan untuk berbagai variasi makanan, kosmetik, produk kebersihan, dan juga biasa digunakan sebagai sumber biofuel atau biodiesel. Dalam setiap liter bio diesel terdapat 20% mengandung minyak sawit. Seiring berjalannya waktu menyebabkan banyaknya permintaan dan kebutuhan sehingga mengakibatkan dalam waktu 5 tahun bertambah seluas Pulau Bali lahan untuk sawit. Artinya akan ada banyak terjadi pembebasan hutan dan tanah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pada tahun 2017 terjadi 659 konflik agraria antara masyarakat dan perusahaan kelapa sawit, yang menyangkut nasib setengah juta jiwa rakyat Indonesia. Pada tahun 2020 dunia membutuhkan 40 juta ton minyak sawit Indonesia, untuk memenuhinya, dibutuhkan 18 juta hektar lahan. Pada tahun 2030 permintaan biodiesel naik 60 kalilipat. Diperkirakan 45.000., km hutan akan dibuka, atau setara 9 kali pulau bali. Lalu yang menjadi pertanyaan kita semua bagaimanakah pemerintah Indonesia mencari solusi untuk permasalahan tersebut? Apakah akan membuka hutan dan menggunakan tanah rakyat untuk memenuhi kebutuhan itu?

Permasalahan yang tidak kalah penting yang menjadi perbincangan hangat diberbagai media, televisi, maupun media sosial saat ini adalah kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk memindahkan ibu kota Negara ke pulau Kalimantan, lebih tepatnya di Provinsi Kalimantan Timur. Hutan Kalimantan yang pada dasarnya terkenal dengan sebutan ‘paru-paru dunia’ sebentar lagi akan berdiri gedung-gedung pemerintahan. Meski konsep yang diusung pemerintah ingin menciptakan “Green City” tetapi yang dibutuhkan oleh bumi saat ini adalah menanam pohon, bukan menanam beton.

Keputusan pemindahan ibu kota tentu akan berakibat panjang pada kehidupan sosial masyarakat, budaya, ekonomi, dan tentunya ekosistem yang ada. Pembukaan hutan untuk dibangun gedung pemerintahan tentu akan sangat berafiliasi terhadap ekosistem, terutama kehidupan hewan, tumbuh-tumbuhan dan aneka macam kekayaan yang ada di alam. Hak pohon untuk dihinggapi burung dara, hak mawar untuk mekar, hak sungai untuk berlekuk, hak gunung untuk dingin, hak binatang untuk berkembang, dalam Enviromentalisme itu adalah hak alam. Dalam Enviromentalisme dikenal dengan Teori Butterfly Efect yaitu “kepak sayap kupu-kupu dihutan Amazon, dapat menyebabkan badai di California. Satu sendok pasir yang diletakkan di Kalimantan, bisa menghancurkan gunung raya disana”.

Kehidupan ekonomi masyarakat juga akan berdampak besar, karena masyarakat (terutama masyarakat adat) yang kehidupannya bergantung pada alam dan hutan tentu akan mengalami tekanan sosial, disebabkan hutan yang selama ini tempat mereka mencari makan, tempat mereka memanfaat hasil hutan untuk dijadikan sesuatu yang dapat dijual untuk membantu ekonomi keluarga akan tergerus hanya karena kebijakan yang salah, yang tidak mempertimbangkan berbagai aspek. Pemerintah seperti hanya mementingkan kepentingan politik daripada kepentingan golongan masyarakat. Dengan keadaan Indonesia yang di lilit oleh hutang luar negeri semakin meningkat, angka pengangguran yang meningkat, begitupun dengan kemiskinan, sementara itu masyarakat di Papua yang tengah bergejolak, di Sumatera dan Kalimantan yang saat ini masih diselimuti kabut asap. Oleh karena itu dapat kita tarik kesimpulan bahwa kebijakan tentang pemindahan ibu kota bukan kegentingan yang memaksa, tetapi memaksakan kegentingan.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Prov. Jambi

FOREST TALK WITH BLOGGER DAN NETIZEN JAMBI
Berangkat dari berbagai persoalan di atas, penulis merasa sangat berantusias ketika mendapatkan informasi bahwa Yayasan Dr. Sjahrir dan The Climate Reality Project menyelenggarakan Talk Show pada tanggal 31 Agustus 2019 di Swissbell Hotel Jambi, tentang problematika hutan dan bagaimana pengelolaan hutan, yaitu dengan mengangkat tema “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”.

Pemaparan matari oleh Dr. Amanda Katili Niode

Narasumber yang ditampilkan dalam event inipun merupakan orang-orang yang memang berkompeten dibidangnya. Seperti Dr. Amanda Katili Niode (Manager Climate Reality Indonesia) yang memaparkan materi tentang perubahan iklim, Dr. Atiek Widayati, MBA (Tropenbos Indonesia) memaparkan materi tentang pengelolaan hutan lestari dan lanskap yang berkelanjutan dan bagaimana upaya mengembalikan ‘fungsi’ hutan melalui pengelolaan lanskap yang berkelanjutan, Murni Titi Resdiana, MBA (kantor urusan Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim) yang pada kegiatan ini berhalangan hadir, Ibu Elly Telasari (Asia Pulp and Paper) yang memberikan materi tentang desa makmur peduli api. Talk show yang di moderator oleh Pak Amril Taufik Gobel berjalan dengan lancar, dan peserta terlihat sangat antusias mendengarkan materi-materi yang disampaikan dan berdiskusi tentang problem hutan hari ini serta pengelolaan hutan untuk masyarakat.

Peserta memberikan pertanyaan terhadap problem hutan di masa yang akan datang

Selain menambah wawasan peserta yang hadir, event ini juga menyelenggarakan pameran mulai dari makanan yang di hasilkan dari hutan, kemudian aneka acsesoris yang terbuat dari kerajinan hasil hutan, serta kain, syal, batik, tas, tikar dan bermacam produk kerajinan lainnya seperti yang ditampilkan oleh Kain Vinto (salah satu peserta pameran). Dan yang membuat penulis terpukau adalah bahan yang digunakan merupakan alami hasil dari aneka macam tumbuhan dan hasil alam lainnya.

Pameran Kain Vinto yang sudah go internasional terbuat dari bahan alami

Dari event “Forest Talk Whit Blogger & Netizen jambi” penulis merasa sangat penting untuk kita semua menjaga alam dan hutan kita. Kebijakan dan pengelolaan yang salah akan berakibat buruk terhadap kehidupan di masa yang akan datang. Silakan membuat kebijakan namun harus mempertimbangkan berbagai aspek dan sisi kehidupan masyarakat, yang mana begitu banyak dari masyarakat Indonesia yang hidupnya sangat bergatung pada alam. Adapun sosialisasi tentang lingkungan demi menuju pengelolaan hutan lestari jangan sampai berhenti disini, harus dilakukan secara terus menerus agar supaya muncul kesadaran ditengah masyarakat untuk  sama-sama menjaga dan melestarikan hutan untuk anak cucu kita. Kesadaran tentu saja tidak serta merta muncul begitu saja, harus ada langkah konkret dan konsisten dalam mengimplementasikan itu semua. Mulailah dengan merubah mindset bahwa apa yang akan kita lakukan terhadap alam dan hutan tidak hanya untuk sementara waktu, melainkan kita proyeksikan itu untuk keberlangsungan kehidupan di masa yang akan datang.

Forest Talk With Blogger & Netizen Jambi

(Riza Fahlevi. 2019 Masehi)

Kunjungi website: www.lestarihutan.id
Twitter: @YSjahrir
Instagram: @yayasandoktorsjahrir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar